Monday, February 15, 2016

DESEMBER


Kepadamu kasih, sore ini turun hujan. Hujan di penghujung tahun.
Anginnya masih sama meniup beberapa lembar daun kering yang kita sebut dengan organik. Kau ingat kasih? Air di dahan itu masih jatuh mengenai kaleng bekas minuman yang dulu sengaja kau taruh agar jatuhnya menciptakan bunyi yang kau sebut itu alunan alami.
Mereka masih sama kasih, mereka masih seperti dulu.

Kasih, aku ingat dulu kau pernah berkata kala hujan 'duduklah didepan rumahmu dan nikmatilah secangkir kopi sambil melihat pemandangan sekitar, lihatlah tumbuhan ketika sedang turun hujan, mereka sangat alami, dan sesekali kau putar lagu jazz untuk menenangkan hati'

'damai dan tenang kelak hatimu rasakan'

Kasih, entah mengapa rasanya hatiku tak tenang dan tak damai seperti yang kau ucapkan.

mengapa rasanya hatiku seperti ada yang bergejolak dan ingin ku katakan, sungguh aku tidak bisa mengendalikannya.
Kau tahu apa kasih?
Kini ku sedang merindukanmu.

Kasih sampaikah rasa rinduku kepadamu? Sedang kau berada di negeri sebrang entah bersama siapa dan sedang apa.

Kasih, mengapa begitu berat sebuah penantian ini? Apa ini karena aku sangat menyayangimu?
Kasih, aku ingin jatuh cinta lagi kepadamu seperti hujan yang tidak pernah bosan mengguyur kota ini di penghujung tahun.

Kelak sampai kapan aku menanti dengan kediaman ini? Kelak sampai kapan aku duduk menikmati pemandangan? Kelak sampai kapan aku merasa sepi walau ditemani alunan alami dan musik jazz sekalipun itu sangat kencang ku putar.


Kasihku kepadamu,

Bila boleh ku meminta pulanglah dengan cepat atau berkabarlah dengan mengirim dua baris atau barangkali hanya satu kata. Asal kau hadir disamping walau dengan surat.
Ingatlah kasih, bila seperti ini aku benci bulan Desember


TIFANNY ELLIES
31 DESEMBER 2015

No comments:

Post a Comment