Posts

Februari

Oleh: Tifanny Ellies Di Februari hujan selalu datang, bukan hanya sebentar tapi sangat lama hingga menewaskan semut yang di lubang. Di Februari mereka berkata sayang, sayangnya apa mereka pun tidak mengerti arti kata sayang. Di Februari seperti bulan spesial padahal libur hanya sekejap dalam sebulan. Di Februari seperti bulan yang diperuntukan tuk berkasih sayang padahal sayang tidak hanya sebulan. Di Februari kata hanya sekedar penenang dalam nyatanya ketika datang bulan baru kata itu hilang bagai di telan badai. 14/02/16

Pergi

oleh : Tifanny Ellies Aku tersesat di relung hati Selalu! Aku menerka keadaanku saat esok Hanya sekedar harapan yang tak kunjung datang Aku Selalu! Bertanya dengan waktu Bergelut dengan sesaknya rindu Inikah caramu Membunuh dibelakangku

HAIKU dan TANKA

Haiku dan Tanka adalah puisi yang berasal dari Jepang. Tak jauh berbeda dengan pantun puisi Haiku dan Tanka pun memiliki aturan yang harus di penuhi oleh pembuatnya. Bedanya, jika pantun berkembang dalam komunikasi ranah lisan, maka Haiku dan Tanka berkembang dalam komunikasi tulis. Dalam penulisan Haiku, hal yang harus di perhatikan adalah jumlah baris pada setiap suku katanya. Haiku ditulis 3 baris setiap barisnya memiliki pola suku kata yaitu 5-7-5. Namun dalam perkembangnya haiku bisa dibuat dalam tiga bentuk yakni, diantaranya pola pertama 2-3-2, 5-7-5 dan bebas. Jika dibandingkan dengan Haiku, perkembangan Tanka jauh lebih awal. Kata Tanka berasal dari dua kanji yang berbeda. Masing-masing kanji tersebut dapat berdiri sendiri dan memiliki arti. Tan berasal dari kanji mijika yang berarti pendek. Ka berasal dari kanji uta yang berarti nyanyian atau bisa juga puisi. Tanka memiliki pola lebih panjang dibandingkan dengan Haiku. Jika Haiku terdiri dari tiga baris maka T...

Doa di sepertiga malam

Oleh : Tifanny Ellies Yaa Tuhanku Aku lupa diri Aku tak ingat 5 perkara Yaa Tuhanku Aku silau duniawi-Mu Aku genggam bara api Yaa Tuhanku Aku hilang ingatan Aku tak kenal akhir Yaa Tuhanku Penuhlah dosa Ringanlah amal Yaa Tuhanku Izinkan aku mengucap maaf Izinkan aku kembali Yaa Tuhanku Aku ingin kembali Dalam mihrab cintaku seraya memohon ampun Sebelum aku pergi

Kisah Kopi

Oleh : Tifanny Ellies Malam ini aku teguk sedikit kopi yang rasanya tidak lagi sama Manisnya tidak lagi bereaksi dalam rongga perasa Dan pahitnya menyisakan di ujung tempat rasa itu Tiba-tiba kau masih bertanya kepadaku dimana aku menunggumu saat itu? Pertanyaan yang tidak asing tuk didengar dua indera pendengarku Telinga rasanya panas seperti kopi yang disajikan mendengar kata yang selalu terlontar tanpa peduli kau lontarkan dimana kata itu Pernahkah kau sadar bahwa kejadian pahit itu tidak akan aku lupakan dalam sepanjang masa Dan kini kau bangkitkan lagi rasa pahit dengan sedikit emosi Kopi di tengguk rasa pertama manis dan seketika berubah menjadi pahit Secepat itu kopi berganti rasa Aku menunggu dari asap yang mengepul sampai dingin yang mendarat pada ronggaku Memang tidak terlalu lama Menunggu dengan rasa gundah yang tak kunjung pergi mencabik selembar roti gandum yang senang ketika mendengar kabar kan ada seorang datang tuk menemuinya Hingga aku memutuskan tuk ...

Penyesalan

Tik... tik... tik... gemericik air jatuh dari dahan pohon depan rumah kakek tua yang hidup sendiri setelah ditinggalkan istri dan anaknya. Hembusan angin membawa daun-daun gugur beterbangan hingga ke depan pintu rumah kakek tua. "Kreeeeekk..." dahan pintu tua terbuka sedikit demi sedikit. Rupanya angin tak hanya membawa daun kering, melainkan membuka dahan tua yang terpasang untuk masuk ke dalam. Tidak berselang lama, kakek tua itu berjalan dengan tertatih-tatih ditopang dengan tongkat tua ditangannya. Lusuh keadaannya mencerminkan bahwa kakek tua itu tidak mempedulikan dirinya sendiri. Dengan celana cokelat tua yang kotor dan kaos yang banyak bercak kopi kakek tua itu berjalan meraih gagang pintu. Riuh hembusan angin dan daun yang dibawa angin di sore itu menerpa dirinya yang kini berada tepat kolong pintu. Kakek itu tidak benyak bicara, raut wajahnya yang sedih dan kecewa masih membalut penyesalan yang telah ia lakukan beberapa tahun silam, saat itu hingga membuat...

Cerita di setiap tetes air, Hujan!

"Selamat pagi yas." "Bima?" "Nih, buku yg kamu cari" "Ko ada? Kamu kapan cari ini?" "Sehabis antarkan kamu, aku mampir dulu ke toko buku. Aku juga masih hafal buku yg kamu cari dan kebetulan buku ini sisa 2. Yasudah aku beli saja" "Yaa ampun bima, terimakasih banyak yah" "Iya yas, oh iya aku juga beli novel ini jangan lupa kamu baca yah. Maaf aku tidak bisa lama-lama hari ini ada mata kuliah pukul 08.00" "Novel lagi novel lagi. Tapi terimakasih yah bim. Aku senang sekali." "Baiklah, aku juga senang bila kamu menyukainya. Ya sudah ya yas. Dadah" "Iya bim" Sambil berjalan bima letakkan garis lengkung di wajahnya. Novel.. selalu novel yang bima beri kepadaku. Namun, kali ini aku rasa ada yang berbeda dengan bima, tidak seperti biasanya yang berbicara hanya seperlunya saja. Ia terlihat sangat hangat dan lebih banyak omong. Novel yang selalu dibungkus dengan kertas kado setiap ia...