Ulasan

February 22, 2018

RESENSI NOVEL : SIRKUS POHON KARYA ANDREA HIRATA


Assalamualaikum teman-teman.
Hari ini saya akan mengulas atau meresensi tentang sebuah novel karya Andrea Hirata di tahun 2017. Harus saya akui, lagi-lagi saya tertinggal tentang update buku ini, jadi baru bisa saya beli dan baca di tahun 2018. Berikut adalah ulasannya.


Judul   : Sirkus Pohon
Penulis             : Andrea Hirata
Penerbit           : Bentang Pustaka
Tahun terbit     : Agustus, 2017
Tebal buku      : 383 halaman
ISBN   : 978-602-291-409-9

 “Fiksi, cara terbaik menceritakan fakta” – Andrea Hirata.

Resensi:


Andrea Hirata masih menceritakan kehidupan orang-orang Melayu. Novel Sirkus Pohon ini menceritakan tentang kehidupan seorang pemuda yang bernama Sobrinudin yang dipanggil dengan ‘Hob’. Seorang pemuda kampung yang tidak memiliki pekerjaan. Hanya berbekal ijazah lulusan SD, yang sekolahnya hanya tamat pada kelas 2 SMP menyebabkan Hob sulit mencari pekerjaan. Tidak seperti abang-abangnya yang sukses bekerja di PN Timah atau menjadi PNS dan berkeluarga.

Hob memiliki kawan yang bernama Taripol, seorang yang selalu membuat onar di kampung sebab ia adalah seorang pencuri. Akibat ulah Taripol pula, Hob berhenti sekolah pada kelas 2 SMP dan karena keluguannya yang dimanfaatkan Taripol sehingga Hob masuk penjara.
Kehidupan Hob mulai berubah ketika ia bertemu dan jatuh cinta kepada gadis penjaga toko yang bernama Dinda. Bersama Dinda lah semua petualangan hidup Hob dimulai, dari giat mencari kerja dan membuat sebuah moto “Bangun pagi, Let’s go” hingga petualangan hidupnya dengan sebuah pohon delima besar di pekarangan rumahnya.

Novel ini tidak hanya bercerita tentang kehidupan Hob, Andrea Hirata juga menceritakan bagaimana situasi perpolitikan di kampung melayu itu dalam pemilihan kepala desa yang masyarakatnya masih percaya dengan tahayul dan mistis. Dalam novel ini juga diceritakan betapa hebatnya kekuatan pohon delima yang tumbuh di pekarangan rumah Hob, diagung-agungkan semua orang yang memiliki kepentingan.

Pada beberapa babak Andrea Hirata juga menceritkan kisah pencarian dan percintaan Tara dan Tegar. Sosok Tara dan Tegar yang ramah, dan tidak pernah menyerah dalam menjalani kehidupan serta mencari seseorang yang ditemuinya saat acara perceraian kedua orang tuanya sejak mereka kecil.

Andrea Hirata selalu sukses menyajikan cerita dengan baik, yang tidak membuat pembaca merasa bosan atau pusing dengan sudut pandang penceritaan itu. Ia sungguh lihai memainkan diksi-diksinya itu dalam sebuah cerita. Banyak pesan yang dapat diambil dari novel ini mulai dari kehidupan, kisah cinta, perpolitikan dan yang lainnya yang dapat kau temukan sendiri hanya dengan membaca novelnya. Akhir kata, dapat disimpulkan usaha tidak pernah mengkhianati hasil.

Adapun beberapa kutipan yang saya garis bawahi dari novel Sirkus Pohon :

“Tuhan menciptakan tangan seperti tangan adanya, kaki seperti kaki adanya, untuk memudahkan manusia bekerja.” halaman 37

Boi, Samudra dapat kau samarkan, gunung dapat kau kaburkan, apa pun dapat kau sembunyikan di dunia ini, kecuali cinta” halaman 82



“Ternyata hidup ini indah bukan buatan. Kurasa mereka yang selalu mengatakan hidup ini sulitlah, sepilah, tak adilah, segala rupa keluhan, perlu mempertimbangkan profesi baru, sebagai badut sirkus” halaman 91

Diary

Begini Rasanya Kuliah

February 09, 2018

Sudah lama rasanya, saya tidak melemaskan jari-jari saya untuk membuka sebuah dairy digital ini. Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Selamat  malam saya ucapkan kepada pembaca blog saya. Semoga kalian dalam keadaan yang baik, sehat wal afiat. Malam ini, saya ingin menceritakan sesuatu yang menurut saya tidak begitu penting, tetapi harus diceritakan dan harus dibagikan kepada kalian semua. Ini perihal tentang kuliah saya.

Awalnya, saya berpikir bahwa kuliah itu amat sangat menyenangkan dari awal sampai akhir. Ehehe. Meskipun sekarang saya belum lulus. Doain yah, semoga tahun ini saya diwisuda. Oke baiklah, langsung saja. Pernah tidak sih kalian berpikir bahwa kuliah itu sangat menyenangkan dan kayak di kebanyakan ftv? Datang, ngumpul sama temen-temen, terus ketemu cowok keren yang akhirnya jadi pacar atau pacaran. Kalau kalian pernah berpikiran seperti itu berarti kita sama. *Tos*. Setelah saya lulus SMA, saya sempat berpikir seperti itu. Tapi pada kenyataannya tidak seperti itu :( Ekspetasi tidak sesuai dengan realita. Itulah ungkapan saat ini.

Tapi, bukan berarti kuliah saya ini tidak menyenangkan. Kuliah saya sangat menyenangkan. Saya bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai penjuru daerah, tapi tentu dong. Pertama kali, saya kenal dengan teman yang berasal dari daerah yang sama. Sadar tidak sadar, pasti akan seperti itu. Saya bertemu dengannya, berawal dari masa ospek. Saya yang menyapa dia terlebih dahulu karena menurut saya, kalau saya tidak menyapa terlebih dahulu. Bisa jadi saat itu saya tidak memiliki teman. Ya, meskipun banyak teman-teman dari satu sekolah. Tapi kan kita beda prodi dan tidak sekelas, yaudah deh saya putuskan untuk menyapanya terlebih dahulu. Pertemuan pertama saya pasti sama dengan pertemuan pertama kalian dengan orang yang baru dikenal. Menanyakan nama, asal sekolah, kenapa ambil jurusan itu. Haha pasti deh seperti itu, dan hubungan pertemanan saya dan dia masih terjalin sampai sekarang.

Semester Pertama

Semester yang menyenangkan, banyak warnanya kayak pelangi. Semester yang semua orang bersikap sokab (sok akrab). Saling mengenal nama, asal daerah, asal sekolah, tukar nomor telepon, tukar hobi, sampai tukar makanan (kalau lagi bawa makanan). Semuanya dalam keadaan yang amat sangat menyenangkan. Dateng ke kampus pagi-pagi buta karena saking semangatnya masuk kuliah. Kerjain tugas rajin banget, sebelum deadline juga udah selesai tugasnya. Kerja kelompok di perpus, di kampus, sampai ada acara janjian di tempat A atau mengerjakannya di rumah si B aja. Wah, rajin banget deh pokoknya, tidak ada satu tugas pun yang terlewatkan. Belum lagi anak-anak kelas ada acara jalan-jalan ke puncak, katanya acara makrab gitu. Tapi saya tidak bisa ikut, acaranya menginap. Bapak saya tidak akan mengizinkan saya menginap jika tidak ada surat resmi dari kampus. Intinya sih, semester satu itu masih semangat, ipknya bagus, dan masih pada sok-sokan polos.

Semester Dua

Masuk semester dua, masih menyenangkan malah lebih menyenangkan. Di semester dua ini, mulai kelihatan sedikit-sedikit sifat asli dari temen-temen. Ada yang baperan, ada yang cuek banget, secuek-cueknya manusia, terus lagi ada yang agak gila atau error (suka menghibur), ada yang suka ngeledekin, dan banyak lagi. Banyak banget sifat-sifat dari temen-temen yang mulai terlihat. Kelas saya adalah kelas yang mahasiswanya mau diajak diskusi. Saat itu ada mata kuliah pembawa acara talkshow, dimana mahasiswa harus mengerjakan tugasnya yaitu membuat suatu video seperti acara talkshow di televisi. Kelas kami paling kompak, mengerjakan tugasnya bersama-sama meskipun dibagi menjadi beberapa kelompok. Kami mengerjakan tugas itu dari matahari tepat berada seperti di atas kepala hingga mataharinya berada di pelupuk mata (sore), sampai pada akhirnya kami semua satu kelas turun naik lift bersama-sama melebihi kapasitas lift (jangan bilang-bilang yah, nanti kami diomelin dekan). Semua tugas kelompok dikerjakan bersama-sama, dan saat itu belum ada yang namanya ego.

Semester Tiga
Semester tiga biasa-biasa saja, yang spesial adalah kami ada magang 1. "Yash perkenalan dengan lingkungan sekolah sebelum langsung terjun ke sekolah". Banyak tugas yang numpuk, belum lagi dosen-dosennya sudah mulai dosen kelas berat. Tugas mulai tidak dikerjakan tepat waktu, jarang ada yang ajak cari referensi di perpus lagi kecuali emang bahannya tidak ditemukan di internet. Saat semester tiga ada yang namanya debat, mahasiswa diminta saling berdiskusi dan beragumentasi tentang topik yang sudah ditentukan dengan membagi kelompok pro dan kontra. Disanalah, saya jadi tahu pemikiran dan ego dari masing-masing individu. Disaat itu juga saya mengetahui mana yang hanya bisa omong saja dan mana yang memang omongnya berbobot. Semua saling menunjukkan dirinya masing-masing, tapi tidak jarang juga ada yang malah berlindung dibalik opini temannya dan hanya bisa bersorai 'betul tuh'. Begitulah semester tiga.

Semester Empat
Semester yang paling banyak peristiwa. Semua ada di semester empat! Nangis bareng, seneng bareng, saling egois satu sama lain itu ada di semester empat. Tidak usah diceritakan deh, yang jelas di semester empat kami mulai bersahabat dengan prosa.

Semester Lima
Semester yang sudah mulai disibukkan dengan menyusun RPP, Evaluasi, Soal, dan masih banyak lagi. Dan pada semester ini, semua tugas melewati batas 'deadline'. Kacau banget kan. Semuanya dikebut semalaman,  demi besok bisa langsung mengumpulkan tugasnya dan dapat nilai. Selalu bawa banyak buku. Makan tidak tepat waktu, mulai praktek kunjungan ke A, B, C, D disertai laporan-laporannya yang dikebut.

Semester Enam
Bersahabat dengan novel, kunjungan sekolah, penelitian-penelitian, terjun langsung ke masyarakat untuk berbagai penyuluhan dan kerja lapangan. Banyak banget pengalaman yang diambil di semester ini. Tapi, di semester enam ini saya mulai menanamkan semangat semester satu, tugas tidak lagi melewati batas waktu, mulai mencari ke perpus, dan tidak telat masuk kelas.

Semester Tujuh
Sampailah pada semester dimana kami benar-benar terjun langsung, memakai seragam, mengajarkan anak-anak orang tentang satu mata pelajaran. Bergelut dengan prota, prosem, rpp, soal, kisi-kisi dan segala macam administrasi lainnya. Di semester ini saya bertemu dengan teman-teman sebaya dari universitas lain yang tujuan dan tugasnya juga sama. Bagi saya , semester ini amat sangat menyenangkan. Ada yang paling menyenangkan dari semester ini, yaitu saya memiliki murid yang malam ini saya rindukan. Suasana kelas yang ramai dan riuh dengan diskusi, tanya, canda, senyum dan tawa. Oh tidak. Momen itu sangat dirindukan.

Semester Delapan
Bismillahirrohmanirrohim. Saya akan masuk pada semester ini. Doakan saya ya!

Begitulah cerita singkat perjalanan anak kuliah seperti saya ini. Apapun keadaannya, hadapi! Jalani! Seperti air yang mengalir. Ikhlas saja ambil yang baik buang yang buruknya. Semua pasti ada pembelajarannya. Yang jelas malam ini saya sedang merindukan murid-murid saya, dan seseorang tentunya. Kamu tidak perlu tahu siapa dia, biar aku dan Allah saja yang tahu. Saya rasa, saya cukupkan sampai disini. Nanti bila ada waktu, saya akan melemaskan jari-jari saya lagi untuk menuliskan beberapa cerita saya di blog saya ini. Terima kasih, karena sudah membaca cerita saya yang tidak begitu penting ini. Pesan dari saya, semua yang kita alami pasti ada maksud dan tujuannya. Hampir kisah saya ini adalah kisah yang menyenangkan dan sangat berharga, meskipun ada kisah sedih dan kecewanya dan tidak seperti kebanyakan ftv. Namun, saya tetap mencintai perjalanan saya ini. Dan mungkin pengalaman kalian berbeda dengan pengalaman saya. Coba kalian ceritakan pengalaman kalian di kolom komentar di bawah ya :)

Terima kasih
Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Selamat Malam :)