Sunday, March 20, 2016

TAK SEPERTI HABIBIE

TAK SEPERTI HABIBIE
Tifanny Ellies

Sebuah tanah lapang tidak terlalu luas ada satu pohon besar di ujung tanah lapang dan seekor sapi diikat di pohon. Banyak anak-anak sedang bermain. Ada yang bermain lempar batu, ada yang bermain karet dan ada beberapa anak duduk membuat satu baris mengelilingi satu orang duduk di depan mereka.
“kalian tahu, Angin, petir seperti badai datang ketika ibu malin kundang berdoa pada Tuhan. Saat itu malin hendak ingin pergi”
“lalu setelah itu apa yang terjadi samin?”
“malin kundang berubah jadi batu”
“benarkah itu samin?”
“ya benar, kau gofar. Untuk itu jangan melawan pada ibumu. Kalau ibumu menyuruhmu pulang dan memintamu membantu menjual dagangannya. Lekaslah kau lakukan gofar, kalau tidak, nanti ibumu mengutukmu jadi batu. Mana ada yang bisa mengangkat batu sebesar dirimu gofar.”
“Hahaha.. betul itu gofar”
            Anak laki-laki itu adalah seorang gembala sapi yang dikat di pohon ujung lapangan. Samin, seorang cucu veteran yang duduk di bangku 5 sekolah dasar. Sambil berjalan membawa sapi ditemani adiknya nak itu masih bercerita tentang buku yang dibawa ayahnya sepulang dari ibu kota.
            “bang samin, nanti ara ingin pinjam buku abang yang dibelikan bapak”
            “iya ara, nanti abang pinjamkan. Buku itu adalah buku yang harus kau baca. Semua kisah nusantara ada di buku itu. Bapak yang belikan untuk abang karena tahun kemarin abang mendapat peringkat satu. Kini, kau harus membacanya. Abang simpan buku itu di rak lemari di kamar abang”
            Anak itu berjalan menuju rumahnya yang tidak terlalu jauh dari tanah lapang.
            Sampailah ia di depan rumahnya dengan sapi yang ia bawa. Mukanya sangat senang karena ia baru saja memberikan sebuah kisah pengajaran kepada teman-temannya.
            “assalamualaikum kakek ara dan abang samin pulang”
            “waalaikumsalam, gembira sekali cucu kakek.”
            “kek, ara ingin mandi dulu yah. Tadi ara main karet sama teman-teman, keringetan bau deh”
            “iya. Nah samin, apa kau ingin mandi juga”
            “tidak kek, kek, tadi samin menceritakan cerita malin kundang kepada teman-teman”
            “wah bagus itu samin, lalu bagaimana dengan sapi kakek. Apa dia sudah makan?”
            “sudah kek, kek, kapan bapak pulang kek? Bukankah ini sudah 4 bulan. Biasanya bapak pulang dengan waktu 4 bulan sekali.”
            “mungkin bapakmu sedang banyak pekerjaan”
            Samin anak yang sangat pintar di sekolah ia sangat aktif dalam melontarkan pertanyaan-pertanyaan  kepada gurunya. Dalam satu kelas, samin sangat menonjol. Tidak pernah ia tidak bertanya bahkan ia sering sekali bertanya kepada kakeknya tentang sesuatu yang ingin ia ketahui.
            Saat malam hari ketika ia mengerjakan tugas yang diberikan gurunya. Samin menuliskan cita-citanya dan mengungkapkan cita-citanya itu kepada kakeknya. “kala samin besar, samin ingin pergi ke kota untuk melanjutkan belajar. Samin ingin menjadi orang pintar seperti pak Habibie. Ia bisa membuat sebuah pesawat. Kek, apa samin bisa seperti pak Habibie?”
“bisa samin. Setiap manusia diciptakan tuhan untuk menjadi manusia yang hebat asal ia mau berusaha. Samin akan menjadi seorang yang pintar apabila samin rajin belajar.”
Sudah tidak bisa diragukan lagi samin adalah anak yang pintar dan rajin. Kakek samin pun sangat bangga pada samin anak berusia 10 tahun sudah mempunyai cita-cita sebesar itu. Kakek hanya bisa berdoa pada tuhan agar diberikan umur yang panjang agarbisa melihat samin menjadi manusia yang berhasil.
***
            Sudah tujuh hari berlalu, semua buku yang dibelikan bapaknya sudah habis dibaca. Samin masih ingin membaca buku. Samin merindukan bapaknya. Ia menanti-nanti kedatangan bapaknya dan tentu saja ia menantikan buku yang dibawa bapaknya untuk samin. Kini, tidak ada cerita yang harus diceritakannya kepada teman-temannya.
            “samin, ayo dong bercerita lagi. Sudah dua hari kamu diam saja. Kami ingin dengar ceritamu samin”
            Ucapan salah satu anak yang biasa berbaris untuk mendengar cerita samin hanya membuat samin semakin sedih.
            “sudah tidak ada cerita lagi, semua cerita yang aku baca sudah ku ceritakan semua”
            “apa saja samin, tidak harus cerita yang kau baca saja yang kau akan ceritakan kepada kami. Cerita apapun itu kami akan mendengarkannya”
            Angin menderu. Lagit sudah mulai gelap. Bergemuruh dan mendung. Sebentar lagi akan turun hujan. Namun hujan belum sempat turun, ada sebuah ide cerita apa yang akan ia ceritakan kepada teman-temannya. Belum sempat ia ucapkan, terdengar dari sudut lapang anak kecil berteriak.
            “Abang….. bapak pulang……”
            Semua anak-anak yang berbaris itu menorah ke arah dimana suara itu datang.
            “samin itu ara memanggilmu”
            “Abang… bapak pulang…”
            Terpancar garis melengkung di wajah samin. Ia tersenyum bahagia. Berlari ke arah pohon sambil membuka ikatan tali dan menarik-narik agar cepat sapi itu berjalan. Sudah seminggu ia menantikan kedatangan bapaknya. Dan hari itu merupakan hari yang ia nanti-nantikan dengan perasaan yang tidak sabar sampai rumah. Samin menarik sapi dengan kuat sekali, sampai adiknya disuruh untuk membantunya menarik.
            Sampailah di rumah, muka kakek seperti muka orang sedang marah dan kecewa sekali. Suasanya sangat sepi,seperti tidak ada kehangatan suasana rumah saat bapak pulang dan bertemu kakek. Samin dan ara yang sudah ada di depan pintu.
            “masuklah nak, bapak ingin bicara dengan kalian.”
            “bapak, adakah buku yang bapak bawa untuk samin?”
            “pak, ada mainan baru untuk ara?”
            “iya nanti, bapak ingin bicara terlebih dahulu. Samin, ara. Bapak minta maaf kini bapak tidak membawakan kalian buku dan mainan. Samin, rumah makan dimana bapak bekerja membutuhkan banyak orang. Untuk itu bapak kesini untuk membawamu ke kota kamu kerja bersama bapak. Disini kamu hanya membantu kakek saja mencari makan sapinya itu. Tetapi disana kamu membantu bapak dan mempunyai uang. Uang itu bisa kamu belikan buku.”
            “apa disana samin bisa bersekolah pak?”
            “iya disana kamu bisa bersekolah samin, nanti bapak akan meminta keringanan untukmu. Karena kamu hanya membantu membenahi bekas orang-orang makan saja”
            “baiklah pak jika itu bisa membantu bapak samin akan ikut. Tapi kakek dan ara juga ikut kan pak?”
            “tidak, biarkan ara bersama kakek disini. Kapanpun kau mau pulang nanti bapak antarkan kamu pulang”
            Kakek sangat marah dengan ucapan anak laki-laki semata wayangnya tersebut biarpun demikian samin tetap ingin pergi bersama bapaknya. Hari itu merupakan hari tersulit bagi dirinya, adiknya dan kakeknya.
            Samin pergi ke kota bersama ayahnya menjadi seorang pelayan. Tak disangka yang dijanjikan ayahnya bahwa ia akan bisa bersekolah itupun ternayta hanya isapan belaka, ia tidak diijinkan sekolah selama pelanggan berdatangan karena rumah makan itu sangat ramai dikunjungi oleh pekerja kantor, dan oleh semua pelanggannya.
            Selama ia menunggu orang-orang selesai makan, ia membaca buku yang ia beli di toko sebelah. Ia tetap belajar dan tetap membaca cerita. Tak jarang ia perhatikan ibu pemilik rumah makan ketika menghitung uang. Cita-citanya ingin menjadi orang ointar yang membuat pesawat seperti habibie pun sudah telupakan.
***

            Lima belas tahun samin tinggal di kota sebagai seorang pelayan rumah makan, kini samin dapat membuka rumah makannya sendiri dengan nama rumah makan pesawat tempur. Samin menjadi pengusaha muda, walaupun sekolahnya hanya tamat di bangku kelas 5 sekolah dasar. Kakeknya meninggal diusianya yang 15 tahun. Bapaknya tinggal bersamanya, samin memboyong keluarganya untuk tinggal bersamanya. Kini cita-citanya menjadi orang pintar seperti habibie sudah tidak diingatnya kembali, kini ia menjadi seorang pengusaha muda.

No comments:

Post a Comment